SAHAT, 42, memang keterlaluan. Anak sudah tiga, bini juga baru menjelang emak-emak, kok tega-teganya telantarkan keluarga gara-gara punya WIL. Tapi Norma, 28, yang jadi demenannya, meski hanya tenaga honorer mampu layani “tenaga kuda” Sahat. Ny. Sahat, 36, sampai mengadu langsung ke Walikota.

Bukannya menganjurkan, mau punya WIL itu kalau modal cekak, tak punya “uang lelaki” sendiri, jangan coba-coba! Pasti cepat ketahuan. Soalnya jika belanja untuk WIL gunakan dana APBD, lama-lama bikin curiga bini. Jika ketahuan lalu tobat, itu masih bagus. Tapi banyak pula yang nekad, sehingga tega telantarkan keluarga.

Salah satunya adalah Sahat, Padangsidimpuan Sumut. Saat skandalnya bersama gadis Norma, eh…..malah nekat. Keluarga ditelantarkan, dia lebih banyak ngendon di rumah WIL-nya yang sesama se-kantor di Pemkot Padangsidimpuan.

Awalnya Sahat adalah kepala keluarga yang layak jadi percontohan. Sampai anak ketiga lahir, dia masih sayang keluarga. Tapi sejak di ruang kerjanya ada pegawai baru masih honorer, namanya Norma, dia mulai lupa pada keluarga. Apa lagi ketika Norma mampu menanggapi aspirasi urusan bawahnya, Sahat mulai berani gunakan dana APBD (baca: uang rumah).

Sebagai tenaga honorer yang masih tenaga muda, Norma memang mampu melayani “tenaga kuda” Sahat yang suka sampai nyepak-nyepak seperti kuda, hanya tak sampai ngieeehh ngieehhh herllbrrrr….. Sejak itu Sahat tambah sayang pada sang WIL, minta apa saja diberikan. Uang dari Rp 100.000,- sampai Rp 500.000,- sering keluar. Untung saja Norma tidak minta rumah tapak ber-DP nol rupiah.

Sahat ini PNS Pemkot yang hanya terima gaji tok, jarang dapat ceperan, sehingga tak punya “uang lelaki”. Karena Norma terus minta ini itu, lama-lama defisit APBD-nya makin melebar. Sahat yang selalu beralasan ada potongan ini itu pada istrinya, lama-lama tak dipercaya bini.

Mulailah Ny. Sahat yang dilanda curiga mulai mengadakan penyelidikan lewat tim independent. Hasilnya, diketahui Sahat memang punya WIL bernama Norma, tenaga honorer di kantornya. Data-data ini segera ditunjukkan pada suaminya. Maksudnya, setelah ditelanjangi sedemikian rupa jadi malu dan berhenti jadi praktisi WIL.

Sahat memang malu, tapi bukan berarti tobat. Justru dia sekarang tak pernah pulang, ngendon bersama Norma. Istri dan tiga anaknya yang masih kecil-kecil ditelantarkan. Terpaksalah Ny. Sahat mengadu langsung ke Walikota Padangsidimpuan. Dia minta Sahat ditindak sebagai PNS, kalau perlu dipecat biar nyaho.

Kalau dipecat, anak istri mau dikasih makan apa? (Gunarso TS)