JADI PIL terlalu ndableg (keras kepala), mungkin hanya Tamrin, 36, warga Muara Enim (Sumsel). Sudah tahu Hanum, 22, tak mau lagi melayani karena takut sama suami, eh malah mengancam mau bakar rumah. Suami Hanum pun kerahkan warga, dan Tamrin babak belur dihajar, sampai mukanya simpang siur.

Jika tak terkena katarak, mana mungkin gadis cantik mau kawin dengan kakek-kakek usia kepala enam. Atau bisa juga karena pertimbangan ekomomi. Soal bonggol minus nggak papa, yang penting benggol selalu surplus. Tapi itu sekedar teori. Dalam prakteknya, lama tak dapat pasokan bonggol, tentu saja hatinya jadi dongkol.

Hanum yang tinggal di Muara Enim, memang berbodi ranum, bikin lelaki yang kasmaran jadi empot-empotan dibuatnya. Tapi dari sekian kontestan, yang muncul sebagai kuda hitam justru Wisnu, 65, duda gaek yang lebih berpengalaman. Hanya dengan prinsip “witing tresna merga atusan lima”, dia berhasil menaklukkan Hanum.

Namanya kuda hitam, dengan sendirinya Wisnu paling berhak menunjukkan tenaga kuda sebagai suami Hanum. Tapi itu ternyata hanya awal-awalnya saja. Hari-hari penuh dengan “pertandingan”, tapi sekian bulan kemudian tinggal persahabatan. Maklum, sesuai dengan umurnya, Mbah Wisnu tak lagi rosa-rosa macam Mbah Marijan. Meski seranjang Hanum nan ranum itu hanya dijadikan monumen.

Tentu saja Hanum yang masih muda nan enerjik tidak terima dengan kenyataan itu. Sudah dicoba dengan berbagai pengobatan, tapi Wisnu tak lagi perkasa, tegak berdiri macam gedung Sapta Pesona di Jalan Merdeka Barat, Jakarta. Ternyata, nama itu membawa nasib juga. Nama Wisnu ternyata hanya kepanjangan kata: wis ora nganu.

Minta cerai, Hanum takut kehilangan sumber ekonomi. Maka jalan tengahnya, dia mencari PIL saja sebagai pemuas dahaga. Ketemulah dengan Tamrin warga Gunung Megang. Karena memang jauh lebih muda, Tamrin tentu saja mampu menjawab segala tantangan yang diberikan Hanum. Asal ada peluang, pokoknya hari-hari penuh pertandingan. Dua-duanya merasa puas.

Tapi baru sebulan dua bulan menjadikan Tamrin sebagai pekerja outsorching, eh….ketahuan Wisnu. Sejak itu Hanum dilarang berhubungan dengan Tamrin. Dia sudah mencoba memberi pengertian pada PIL-nya, tapi sononya nggak understand (mengerti) juga. Bahkan bila ketemu, under Tamrin yang kadung stand itu tetap minta ditanggungjawabi. “Kalau menolak, tak bakar rumahmu.” Begitu ancam Tamrin.

Ternyata beberapa hari lalu Tamrin benar-benar datang bawa jerigen kecil isi bensin. Hanum lapor ke suami, dan Wisnu pun hendak menangkap Tamrin, tapi malah dapat guyuran bensin. Untung saja geretan yang berulangkali dinyalakan macet, sehingga Wisnu sempat teriak minta pertolongan warga.’

Tak ayal lagi Tamrin yang hendak kabur dikerubuti warga, dibuat bancakan. Untung saja polisi segera datang, sehingga sebelum Tamrin jadi bergedel sudah bisa diselamatkan. Tapi wajahnya kadung simpang siur, kenyang digebuki penduduk.

Mestinya Hanum suruh periksa, itu luka digebuki masa apa bekas operasi plastik. (Gunarso TS)