VIVA – Kandidat petahana presiden nomor urut 01 Joko Widodo meminta semua kader partai koalisi pendukungnya di Jawa Barat untuk cerdas dalam mengcounter isu kampanye hitam dalam pemenangan Pemilihan Presiden 2019. Jokowi menilai petahana menjadi sasaran empuk lawan politik.

Hal tersebut disampaikan Jokowi saat memberi arahan dalam konsolidasi pemenangan Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi - Ma’ruf Amin di Hotel Asrilia Kota Bandung.

“Petahana itu pasti disorot dan dicari kegagalannya, kekurangannya, pasti. Di manapun, oleh sebab itu kita harus pandai-pandai menjelaskan kepada masyarakat apa yang sudah kita lakukan, keberhasilan apa yang dikerjakan pemerintah dan kita harus cepat (menghadapi) setiap isu,” ujar Jokowi, Sabtu 10 November 2018.

Jokowi menyatakan, dari laporan yang diterima, penyebaran kampanye hitam di Jawa Barat semakin intensif menyerang kandidat Jokowi-Ma’ruf. Ia menyebut hoax di Jabar terus mulai menanjak.

“Hoax, fitnah yang saya liat memang di Jawa Barat akhir - akhir ini mulai menanjak agak tajam. Ini harus diberikan counter-counter yang baik, saya titip,” katanya.

Jokowi menilai, semua elemen pemenangan di daerah agar jangan terjebak dalam zona nyaman progres kampanye yang saat ini menunjukan tren positif. Ritme yang dimaksudnya seperti lari maraton.

“Ibarat lari maraton, larinya di depan kencang nanti di belakang kehabisan nafas. Jadi tetap lari kencang di akhir lebih kencang lagi, ritme ini yang memang terus harus kita atur,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Jokowi, kesuksesan pemerintah melepaskan pengaruh asing tidak sepenuhnya diketahui masyarakat. Masyarakat dinilai mudah disusupi isu antek asing oleh lawan politik.

“Isu antek asing ini sudah mulai terus disampaikan, kalau ada isu ini jawabannya to the poin saja. Blok mahakam sudah puluhan tahun dipegang oleh Prancis dan Jepang, sejak 2016 telah diserahkan 100 persen kepada Pertamina, ini banyak tidak diketahui,” ujarnya.

Dari hasil tersebut, Jokowi meminta semua elemen pemenangan agar tepat dan sederhana menjelaskan kepada masyarakat dalam melawan isu antek asing.

“Artinya secara hukum, secara perjanjian secara kesepakatan semuanya selesai. Jadi pertanyaannya dibalik, antek asingnya di mana?” terang mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Lanjut Jokowi, perjuangan pemerintah dalam membebaskan industri strategis dari pengaruh asing bukan hal mudah. Ia menyinggung perjuangan pemerintah dalam divestasi saham PT Freeport Indonesia.

“Dipikir enggak ditekan dari kanan dari kiri atas bawah? Ditekan. Dipikir ujug-ujug dapat 51 persen? Enak banget, itu sulit bukan hal mudah negosiasi seperti itu, dengan intrik, tekanan, tapi maju terus. Saya yakin ini bener, maju terus, enggak takut saya, penjelasannya seperti itu saja. Antek asingnya di mana?,” kata mantan Wali Kota Solo tersebut. (ren)