GAYANYA begitu cuek. Tak banyak bicara. Namun sopir Jeep offroad di wilayah Cikole Lembang, Bandung, Jabar, ini agak terkejut saat ditembak apa gelar sarjananya.

Pria kelahiran 1990 ini akhirnya mengaku. “Saya, sarjana bisnis manajemen (SBM) di salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Dago,” kata Heru mengawali obrolan dengan Pos Kota di hutan Cikole, baru-baru ini.

Ia pun melanjutkan perjalanan hidupnya hingga ‘nyemplung’ menjadi sopir Jeep offroad. Sebelum menggeluti profesi ini, Heru mengaku sempat bekerja di sebuah toko.

Pekerjaan pertama yang didapatnya adalah menjadi kepala toko. Ia mengaku sempat menikmati pekerjaan ini. Namun setahun kemudian, dirinya mengundurkan diri dan sempat menganggur.

Tak lama, Heru mencoba mencari keberuntungan. Melamar kerja di Bank Mandiri yang kebetulan tengah membuka lowongan kerja. Nasib baik mulai berpihak. Berbagai tahapan seleksi yang dijalani berhasil dilewati.

Hingga akhirnya ia harus mengikuti pendidikan selama tiga bulan, sebelum menjadi karyawan di bank pelat merah tersebut. Baru jalani dua bulan, ia memilih keluar. “Saya enggak datang-datang lagi,” ucapnya.

Alasannya? Heru mengaku tak mau terikat dengan berbagai aturan. Itu sebabnya dirinya memilih keluar. Keluar dari pendidikan di Bank Mandiri, ia tak langsung menjadi sopir Jeep offroad. “Nggak gampang bawa Jeep offroad. Apalagi medannya di hutan,” ujarnya.

Untuk belajar saja, tidak bisa dengan sembarangan orang. Harus benar-benar ahli. Saat belajar pertama kali, Heru sendiri mengaku didampingi para seniornya yang sudah ahli. Mereka mengajari bagaimana melewati rintangan, seperti jalan terjal, tikungan patah, bebatuan, lumpur dan sebagainya.

Selama menjadi sopir Jeep offroad tantangan yang dihadapi tak kalah berat. Seringnya menghadapi medan yang begitu berat berpengaruh terhadap kondisi Jeep yang dibawanya.

“Terutama menyangkut kaki seperti per atau gardan patah,” ucapnya.
Kalau sudah terkena ‘penyakit ini’, dirinya sudah tak berkutik. Mau tak mau memanggil kawan sesama komunitas sopir offroad untuk memperbaikinya.

Heru mengaku punya pengalaman pahit akibat rusaknya kaki Jeep yang dibawanya. “Saya sendirian berada di hutan tengah malem. Menunggu kawan saya datang membantu,” tuturnya.
Perbaikan kaki Jeep berlangsung hingga pukul 02:00. “Ini tantangan. Tapi saya justru menikmati tantangan tersebut,” ujar bapak satu anak ini.

Menyinggung penghasilan yang didapat, Heru tersenyum. “Yah lumayan dan tak kalah dengan penghasilan pegawai kantoran,” ucapnya.

MINIMAL 3 ORDER

Setiap minggu, ia mengaku selalu menerima order sewa dari para pelancong yang ingin menikmati fun offroad di hutan Cikole. “Minimal seminggu, rata-rata saya dapat tiga order sewa, bahkan lebih,” bebernya.

Biaya sewa sekali jalan antara Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta. “Abang bisa hitung sendiri. Berapa saya terima uang dalam sebulan. Hanya saja, dari uang sewa tersebut, sebagian saya sisihkan untuk maintenance mobil,” ujar Heru.

Yang jelas, pemilik mobil Land Rover tahun 1959 warna biru langit ini mengaku hasil yang diperoleh cukup buat menutupi biaya hidup sehari-hari.

“Bukan hanya itu, saya bisa mendapat kerjaan tanpa terikat waktu dan aturan. Pekerjaan ini juga banyak tantangannya,” pungkasnya menutup obrolan. (setiawan/st)