SUDIR, 35, pusing karena sudah dua bulan tidak ketemu istrinya, Mundari, 30. Mana tahan ngaplo berkepanjangan. Ternyata istrinya kabur kerja ke Surabaya lantaran dibujuki sang ibu mertua. Sudir pun jadi dendam. Ny. Surtinah, 65, yang dianggap jadi provokator langsung digetok palu hingga tewas.

Dalam kisah perwayangan, Narasoma adalah menantu yang tega bunuh mertuanya, Begawan Bagaspati. Dia malu punya mertua wajahnya simpang siur dan cenderung berantakan. Demi kebahagiaan anak, Begawan Bagaspati rela saja nyawanya dicabut menantunya. Bahkan ajian Candabirawa kemudian diserahkan ke Narasoma. “Saya tak punya sepeda untuk hadiah, ambil saja ajian sakti milikku,” begitu kata Begawa Bagaspati.

Kelakuan Sudir warga Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, ternyata sama dan sebangun. Bedanya adalah yang dibunuh ibu mertua, gara-gara Sudir sakit hati. Sedang kangen-kangennya sama bini, eh…..bini malah diekstradisi ke Surabaya. “Ya nggak bisa masuk itu barang!” kata Sudir menirukan kalimat khas politisi DPR almarhum Sutan Bhatugana.

Sudah punya anak, tapi Sudir tidak punya penghasilan tetap, sehingga dia menjelma jadi seorang cendek-awan. Maksudnya, pendek di siang hari, tapi modod (memanjang) di malam hari. Tapi meski sudah disindir oleh Ny. Surtinah, dia tetap santai-santai saja, tak mau cari kerja secara serius.

Ny. Surtinah yang jengkel punya menantu jadi tuna karya, diam-diam dia membujuk anaknya, agar kerja saja di Surabaya. Bagaimana dengan suami yang masih doyan-doyannya? Ya biar saja dia nganggur secara total, gagal sebagai tenaga kerja, gagal pula menyalurkan tenaga kuda.

Tahu-tahu sudah dua bulan Sudir dipaksa pisah rumah dengan istrinya. Dia menjadi sakit hati ketika aktor intelektual kepergiannya ke Surabaya ternyata mertuanya sendiri. Dia sih enak, tinggal perintahkan. Tapi implikasinya kan ke Sudir selaku menantu. Malam hari ketika kedinginan, mau cari obat apa, coba?

Saking jengkelnya, langsung saja dia ambil palu dan digetokkan ke kepala mertuanya, pletakkkk……. Langsung saja Ny. Surtinah KO alias tewas, tanpa perlu hitungan sampai 10 untuk bangkit. Gara-gara kesadisannya, Sudir pun ditangkap.

Tega sama mertua gara-gara dua bulan tak berkaga. (Gunarso TS)