AGAKNYA Lasmijah, 30, jadi wanita paling kejam se-Medan Belawan (Sumut). Bayangkan, hanya karena suami suka marah-marah, dia tega cari PIL dan memerintahkan membunuhnya. Sobirin, 34, telah dieksekusi, tapi polisi mengendusnya. Lasmijah ditangkap lima bulan kemudian.

Setiap wanita mendambakan suami yang penyabar dan penuh pengertian, apapun kelakuan istri dimaklumi. Istri boros, uang ditambah lewat Anggaran-P (Perubahan), istri tak bisa masak, tiap hari makan di restoran. Tapi sebaliknya, istri juga paling tidak suka suami yang suka marah-marah, gara-gara telat makan atau minum. Apa lagi jika masih ada bonus tempeleng, banyak istri yang kemudian minta cerai.

Awalnya rumahtangga Lasmijah-Sobirin tenteram damai. Tapi setelah satu periode jadi suami istri (5 tahun), tiba-tiba Sobirin jadi sensitip sekali. Di rumah suka uring-uringan, marah-marah yang tak jelas penyebabnya, bahkan kadang sepele sekali. Hanya Lasmijah telat masak, Sobirin sudah tendang pintu. Makan tidak enak, piring dibanting. “Apa ini sayur kencing kuda…., prang!” kata Sobirin sekali waktu, gara-gara istrinya masak sayur asem.

Hal-hal seperti itu menjadi keseharian, sehingga jadi seperti iklan teh gendul: tidak hari tanpa minum teh gendul. Untuk mengurangi hatinya yang suntuk, Lasmijah lalu sering asyik bermain WA dengan grup ini dan itu. Dan terlupakanlah kemarahan Sobirin, sosok lelaki yang bertolak belakang nama dan karakternya.

Dari kegitan main medsos tersebut Lasmijah kemudian kenal dengan Ferdinand, 34. Dari japri-japrian lama-lama jadi janjian, ketemu di suatu tempat. Eh, ternyata sama-sama cocok. Lasmijah tertarik pada pandangan pertama. Dia jadi lupa suami, karena mengagumi penampilan kenalan baru. “Tongkrongannya saja meyakinkan, apa lagi “tangkringan”-nya ya?” kata Lasmijah dalam hati.

Bahkan Lasmijah sudah berani curhat tentang rumahtangganya, tentang Sobirin yang malah pemarah. Ferdinand ternyata bukan saja pendengar yang baik, tapi kemudian juga memberi saran-saran yang baik. Makin hari makin lengket, Ferdinand mulai berani mengajak Lasmijah ke hotel. Mau ngapain, seminar? Bukan! Lasmijah yang sudah tahu maksudanya, menurut saja. Dan ternyata benar, tongkrongan dan “tangkringan” Ferdinand berbanding lurus.

Tanpa terasa Ferdinand telah berhasil mencetak gol 3 kali lewat tendangan duabelas pas. Bahkan mereka sudah membuat MOU untuk menikah di kemudian hari. “Lalu bagaimana dengan Sobirin suamimu?” tanya Ferdinand. Ternyata jawabnya, Ferdinand harus dilenyapkan, ketimbang nyinyir terus di rumah.

Ternyata Ferdinand tidak kaget, bahkan ketika ditunjuk jadi eksekutor, menyatakan siap. Maka pas Sobirin tidur di kamarnya, dengan sepengetahuan Lasmijah, Sobinir benar-benar dibunuh dengan cara gorok leher. Habis mengeksekusi PIL Lasmijah ini langsung kabur.

Untuk menghilangkan jejak Lasmijah berlagak pilon ketika diperiksa polisi. Katanya, tahu-tahu suaminya bermandikan darah karena lehernya digorok. Tapi polisi mana bisa dikibuli. Lama-lama dia mengaku bahkan menunjukkan ke mana larinya Ferdinand. Setelah melalui perburuan berbulan-bulan, pembunuhan di bulan September itu pertengahan Januari lalu berhasil ditangkap pelakunya di Aceh.

Kalau selingkuhnya juga di Aceh, pasti kena cambuk tuh. (Gunarso TS)