JADI RT di Jakarta dan daerah lainnya, kebanyakan karena kepepet, “ditodong” warga. Sebab menjadi RT itu sudah capek, masih suka dipaido warga. Tapi lucunya, untuk dipilih jadi RT di Jakarta syaratnya macam-macam, sampai harus melepas jabatan di lembaga masyarakat dan parpol. Padahal mau dipilih menjadi RT saja sudah bagus!

Bulan Desember mendatang musim pemilihan Ketua RT di Jakarta, di mana kemudian menyusul pemilihan Ketua RW. Meski RT kini dapat honor Rp 1,5 juta sebulan, jarang orang mau menjadi Pak RT. Lihat saja setiap ada pemilihan RT, banyak warga yang merasa ditokohkan, memilih ngilang alias tidak hadir.

Akibatnya, mereka yang terpilih menjadi RT itu adalah orang-orang yang kepepet, lantaran “ditodong” warga. Sebab RT di Jakarta itu problematiknya lebih banyak, tapi warga tahunya maido atau menyalahkan Pak RT. Paling kesal, warga hanya tahu haknya saja, tapi kewajibannya ogah. Misalnya diajak kerja bakti meski hanya sebulan sekali, yang datang bisa dihitung dengan jari. Ini terutama di perumahan.

Karena kesibukan kerja pokoknya, RT di Jakarta kebanyakan hanya mengutamakan administrasi pemerintahan belaka. Soal bagaimana lingkungan menjadi rapi, bersih, kebanyakan tak sempat memikirkan. Bahkan ada RT yang tak pernah mengajak rapat warganya. Yang penting minta tandatangan dan stempel dikasih. Bahkan saking baik dan etengannya, ada RT yang siap datang ke rumah warga untuk layani bikin surat pengantar ini itu.

Kini RT-RT dan RW di Jakarta mulai sibuk untuk persiapan pemilihan Ketua RT/RW. Panitia mulai mensosialisasikan persyaratan menjadi Ketua RT/RW. Yang lucu, untuk formasi Ketua RT saja, si calon harus melampirkan surat pernyataan kesediaannya melepas jabatan sebagai anggota Lembaga Masyarakat atau Parpol.

Adakah warga yang ambisi menjadi Ketua RT? Lalu sebelum pemilihan sudah menyiapkan persyaratan tersebut. Ini sungguh tak masuk akal. Kecuali, setelah terpilih baru melampirkan persyaratan tersebut. – gunarso ts