JAKARTA – Presiden Jokowi sempat menyinggung masalah genderuwo, tepatnya politik genderuwo. Hal itu disampaikan saat kunjungan di Tegal, Jumat (9/11/2018). Menurut Jokowi, politik genderuwo adalah aktivitas politik yang menakut-nakuti rakyat.

Sebelum bicara itu, Presiden Jokowi  mengingatkan masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan antarsesama masyarakat. Jangan sampai terpengaruh dengan politik yang suka menakut-nakuti.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti,” kata Jokowi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, hari ini.

“Jangan sampai seperti itu. Masyarakat ini senang-senang saja kok ditakut-takuti. Iya tidak? Masyarakat senang-senang kok diberi propaganda ketakutan. Berbahaya sekali. Jangan sampai propaganda ketakutan menciptakan suasana ketidakpastian, menciptakan munculnya keragu-raguan,” ujarnya.

(Baca: Akbar Tanjung Mengaku Tak Pahami ‘Politik Genderuwo’ ala Jokowi)

Jauh sebelum itu, sekitar  tahun 1950-an, ilmuwan Amerika Serikat, Clifford Geertz sudah membahas genderuwo itu dalam studi antropologi. Dalam hal tesisnya, ia lakukan sekitar sekitar 60 tahun lalu, hasil studi di kota Mojokutho (nama aslinya adalah kota Pare, di Kediri, Jawa Timur).

Kemudian disertasinya dibukukan dalam bahasa Inggris terbit pada 1960 bertajuk The Religion of Java, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, di bawah judul Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, terbit pada 1981.

Studi Geertz di Mojokutho begitu mendalam dan luas, sehingga bukunya hingga sekarang tetap aktual, meski ada hal kontroversial. Dalam buku itu, dia juga membahasa soal kepercayaan terhadap makhluk halus, termasuk genderuwo. Ia mencari informasi dari masyarakat.

Dari informasi yang ia dapat, dalam masyarakat Jawa makhluk halus ada tiga jenis pokok, yakni: memedi (tukang menakut-nakuti), Lelembut (makhluk halus), dan tuyul.  Nah, soal genderuwo, dari penggalian Geertz ternyata masuk dalam kategori memedi.

Dia menjelaskan, memedi hanya mengganggu orang atau menakut-nakuti orang, tetapi biasanya tidak sampai merusak. Memedi laki-laki, itulah yang disebut genderuwo, dan memedi perempuan disebut wewe, isteri genderuwo. Wewe selalu menggendong anak kecil dengan selendang di pinggang sebagaimana  biasanya ibu-ibu di desa.

Memedi biasanya ditemukan pada malam hari, khususnya di tempat-tempat gelap atau sepi. Seringkali memedi genderuwo menampakkan diri dalam wujud seperti orang tua, atau keluarga lainnya, yang masih hidup atau mati.

Geertz lalu menceritakan, informannya mengisahkan tentangnya hilangnya anak kecil, karena pengaruh genderuwo. Orang sudah mencari kemana-mana sepanjang minggu. Dan ketika mereka menemukan anak itu, ia sedang bersembunyi di belakang rumah  dalam keadaan sangat ketakutan untuk berbicara, karena dia melihat genderuwo yang mengambil bentuk bapaknya.

“Bapaknya’ (genderuwo) ini menurut di anak sedang duduk di puncak sebuah pohon dan mengencingi anak itu.  Sebenarnya, ungkap Geertz, informannya itu mengatakan, anak itu seharusnya tidak sedemikian takut, genderuwo itu tidak berbahaya sama sekali, hanya menakut-nakuti.

Soal genderuwo, lelembut, dan tuyul,  Geertz memaparkan masih cukup panjang. Termasuk kondisi-kondisi genderuwo yang kadang nakal hingga menggoda wanita. Cerita tentang lelembut, dan tuyul juga cukup menggelitik. Mungkin di kesempatan lain bisa diteruskan ceritanya. (*/win)